The M is Large: iMan

I'd tried and tried to copyright my name. But in the end Apple got there first.

Thursday, May 22, 2008

FILM REVIEW: Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skulls (****)

Gw kesusahan mengingat kapan terakhir kali gw tersenyum di sepanjang film yg gw tonton di bioskop, kalaupun pernah.

Kenapa? Karena itu yang terjadi saat gw nonton Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull!

Gw ga bisa nahan untuk ga senyum sepanjang film. Dan tidak hanya waktu adegan lucu. Atau waktu Indy nyeplos satu respons cerdas khas dia. Tidak. Gw, secara harafiah, tersenyum di sepanjang film. Atau setidaknya 80% dari durasi film. Karena di yang 20% lagi gw terpana dan terpukau.

Because it's a freakin' Indiana Jones movie! And I get to watch it on the big screen!! For the first time!!


Bagi gw Indiana Jones bukan 'cuma karakter film'. Dan 'Raiders of the Lost Ark' bukan 'cuma film petualangan'. Dan gw yakin banyak orang yang ngerasa kaya gini.

Indiana Jones, bagi gw, adalah pahlawan masa kecil. Karakter yang gw pingin miliki waktu gw jadi orang nanti. Bukan jadi arkeolog. Tapi sikap ga pernah kehabisan akal, terkesan nyampah tapi sebenernya cerdas, asal nyeplos tapi ga kosong, making it up as he goes, doesn't have a fucking clue but gets his jobs done anyway, dan seluruh sendi karakter Indy yang bisa kalian sebut.

Dan, bagi gw, 'Raiders of the Lost Ark' mungkin satu pencapaian sinematik favorit gw sepanjang sejarah gw jadi film geek. Banyak orang yang udah bilang ini, dan gw ga bakal pernah bosen ndengernya: 'Raiders of the Lost Ark' is like a 'lightning in a bottle'. Kaya lo ngumpulin seluruh dentuman taufan paling dahsyat di bumi, dan lo masukin ke botol kecil, terus lo lepasin seluruhnya sekaligus ke layar gede. It's really THAT good.

Nah, kalo begitu, bagaimana dengan Crystal Skulls? Memang, film ini ga sebagus Raiders of the Lost Ark. Tapi, membandingkan Crystal Skulls dengan Raiders jg ga bakal adil. Akan sangat sedikit film yang bisa bertahan kalo dibandingin sama Raiders. Dan, dengan demikian, lebih baik segala perbandingan itu kita hindari saja. Yang penting adalah: Crystal Skulls is an Indiana Jones film through and through!!

Begitu Indy didepak keluar dari bagasi sedan di awal film (udah dikasi liat di trailer), trus dia ngambil topinya, dan kita ngeliat siluetnya make tu topi, trus cue Raiders' Theme, lo ga bakal ragu lagi: Indy is back, and he's ready to kick some ass!!

Dan, jangan khawatir. Harrison Ford yang kita liat di sini bukan Harrison Ford yang kita liat di film2 beberapa taun terakhir: yang udah tua, capek, dan kaya pengen cepet2 pensiun. Tidak. Sejak adegan pertama kita ngeliat Indy, pertama kali dia mangap, pertama kali suaranya keluar, kita bakal bersorak sorai. Peduli amat rambutnya udah ubanan dan umurnya lebih tua dari Sean Connery di The Last Crusade, ini Harrison Ford yang sama!

Dari sisi teknis, my hats are off to Spielberg and his crews. Mereka ga bermaksud meng-update dunia Indiana Jones biar kerasa 'sekarang'. Selain beberapa adegan CG (yang sejujurnya, sama sekali ga jelek), ini dunia yang sama dengan yang kita liat di tiga film Indy sebelumnya. Kita ga bakal ngeliat cara ngedit adegan super-frantic, musik pengiring yang dipenuhi irama-irama sintetik, gerakan-gerakan kamera yang menyapu lanskap a la LOTR, atw shaky-cam a la Bourne.

Namun, kalau masih mau nyari kelemahan, satu yang jelas adalah screenplay-nya. Memang David Koepp bukan salah satu screenwriter terbaik di Hollywood. Tapi gw ga termasuk golongan yang membenci tuh orang dengan penuh semangat. Toh dia nulis Spider-Man (yang pertama) dan Jurassic Park, yang termasuk deretan film mainstream classic dan iconic. Tapi, emang keliatan kalo skenario film ini sedikit lemah. Setengah pertamanya (setelah opening sequence selese) rada nyeret, dan waktu Indy dan Mutt ngomongin intrik yang sdg terjadi (ini nyulik itu, terus ada yang nolong, terus itu diculik, etc), gw ngerasa kok rada njelimet. Terus sejarah tentang kaum penjelajah yang menemukan crystal skulls ratusan tahun yang lalu juga kerasa agak ribet. Perasaan di tiga film Indy yang dulu, backstory kaya gini diterangin dengan cara jauh lebih gampang dicerna dan ga bikin kita tertahan dari nonton filmnya sendiri.

Terus, satu lagi yang gw perhatikan adalah adegan CG-nya. Banyak orang yang nganggep ini kelemahan, karena tiga film Indy yang dulu emang sangat mengandalkan efek praktikal dan stuntworks. Tapi, kalo gw bilang, beberapa adegan favorit gw di film ini malah adegan yang make CG secara besar-besaran. Karena, bagaimanapun, ini Steven Spielberg. And Spielberg's CGI is not ordinary CGI.

Kita ga bisa mbandingin CGI di film ini sama CGI di Transformers atw bahkan di trilogi prekuel Star Wars sekalipun. Di film ini keliatan kalo Spielberg berhasil menjadikan adegan-adegan CGI sebagai karya seni. Ga sekedar teknologi baru yang bisa bikin film lebih ngejreng. Ngeliat adegan-adegan CGI di Crystal Skulls, it's like seeing a lush and beautifully-rendered paintings of simulated reality.

Ingat adegan Dr Grant pertama kali ngeliat kawanan dinosaurus di padang rumput Jurassic Park, atw waktu mothership pertama kali mendarat di klimaksnya Close Encounters, atw waktu sepeda Elliott dan temen2nya diterbangin sama ET biar mereka kabur dari kejaran polisi? Adegan-adegan CGI di film ini, terutama adegan finale-nya, membuat gw teringat ke adegan-adegan tersebut.

Yang menjadikan seluruh film Indy keren dan ikonik adalah sisi nostalgia. Gimana dia mengingatkan kita ke masa kita kecil dulu, yang kalo dikasih mainan baru, langsung diambil dari boksnya dan dimainin ga brenti2 sampe malem banget dan orang dah pada tidur semua. Seluruh film Indy punya efek yang kurang lebih sama. Dan Crystal Skulls ga berbeda apapun juga.

Gw merasa menjadi anak kecil lagi pas nonton Crystal Skulls. Jadi, ya, ga cukup hanya memenuhi ekspektasi gw, Indiana Jones sekali lagi membuat gw terpukau dan terpana, dan membuat gw semakin mengerti kenapa gw ngefans berat sama tokoh ini dari ke
Read more!

Monday, April 21, 2008

It's been that long, huh?

Wew... More than 4 months with no single post...

Dan ketika gw mikir kenapa ini bisa terjadi, gw teringat akan minggu2 neraka gw selama semester 6. Seriously, they were shitty weeks! Yang namanya seminggu bisa laporan 2, pr 4 (or something along those lines)... Dan siapa yang tidak ingat hari Jum'at di awal April, dimana seisi kelas Arsitektur Komputer pada snapped semua? (kecuali pak Yudi, yang memang hampir tidak pernah tidak senyum...) . Gw akan coba pelan2 lagi nulis di sini...
Yeah, we'll just see whether I'm gonna make it this time around...

For the time being, let me just tell you the months-old news of my thoughts...


"There Will Be Blood" is the best film of 2007. Period. "No Country" comes close.

"Sweeney Todd" is like "Moulin Rouge" on crack. Blood's spilling everywhere, and it felt awesome. (brwahahahahahaha...)

"Le Schapandre et le Papillon" is a triumph of imagination.

Uwe Boll is definitely NOT a genius, as he say he is.

I signed the infamous 'Stop Uwe Boll' petition, and I urge you to do the same.

Uwe Boll is definitely NOT a genius

Believe me when I say Cloverfield will still be one of the best films of 2008 at the end of December. GO SEE IT!

They say third time's a charm, so here goes nothing (or everything):
Uwe Boll is definitely NOT a genius

Daniel Plainview, Sweeney Todd, and Anton Chigurh should face each other in MTV's Celebrity Deathmatch.

Every time I watch There Will Be Blood's ending, I want to drink a choco milkshake.

A continent-hopping archeology-professor, a paranoid billionaire wearing a bat suit, and a cute little robot will rule the summer.

And, last but not least (aw, how cliched...)...
My Top 10 Films of 2007:
1. There Will Be Blood(*****)
2. No Country for Old Men (*****)
3. Sweeney Todd (*****)
4. Atonement (*****)
5.Persepolis (*****)
6. Ratatouille (*****)
7. Berbagi Suami (I've missed it in 2006) (*****)
8. Le Schapandre et le Papillon (****1/2)
9. The Bourne Ultimatum (****1/2)
10. Zodiac (****1/2)
Read more!

Monday, December 10, 2007

For Your Consideration: NO COUNTRY FOR OLD MEN

Salah satu film teraneh tahun ini. Dan yang punya tokoh paling gila. Gw terbelah jadi dua setiap mikir ini film. Di satu sisi, gw nganggap penggarapan karakter dan proses adaptasinya keren abis (dan sangat setia pada novel aslinya), sinematografinya jempolan, pengarahannya brilian. Tapi di sisi lain gw masih belum bisa mengampuni pilihannya untuk 'tidak menayangkan adegan-adegan tertentu secara lebih eksplisit', walopun gw akui teknik editingnya juga asik banget secara keseluruhan. Tapi, emang, kadang2 karya yg berusaha mendobrak konvensi itu selalu membuat banyak orang garuk2 kepala dan sama banyaknya yang langsung memuja. Cuma waktu yang bisa mengungkap kebenarannya. (anjrit. ngomong apa pula gw ini.)

Anyway, ini iklan FYC untuk No Country for Old Men.

















































Read more!

For Your Consideration: THERE WILL BE BLOOD

Film yg belum gw tonton tapi udah dapet review bersinar dimana2 yg membuat gw berpikir kalo mungkin ini film terbaik 2007. Sangat penasaran, dan sangat kecewa karena ga masuk daftar film Jiffest. Ini iklan 'For Your Consideration' untuk There Will Be Blood, yang katanya punya salah satu sinematografi paling keren taun ini. Well..., liat aja sendiri posternya.

Read more!

Spreading the Buzz: SPEED RACER (WOO HOO!!)



Film yg punya peluang untuk jadi adaptasi-kartun paling bombastis, paling gila, n paling norak sepanjang sejarah, akhirnya dapet trailer pertama. Tapi, entah kenapa, gw ga begitu konek. Mungkin karena film kebut2an ga pernah bisa menjadi sesuatu yg lebih dari karya superfisial *cough*the fast and*cough*the furious*cough*woo.., what was that? Dan jg karena gaya ngomongnya, yg menjadi ikon n definisi utama serial Speed Racer, ga dipake di film ini. Walopun selalu ada kemungkinan kalo seluruh adegan ngomong di trailer ini dilambatkan 100x... Hmm...

However, di film ini tetap ada Wachowski Brothers, yg mendobrak batasan efek visual di The Matrix, membuktikan kalo dua bintang film hot bisa menghasilkan adegan seks sangat boring di The Matrix Reloaded, lalu membawa pertarungan Dragon Ball ke film live-action di The Matrix Revolutions... Like em, hate em, you just can't stop em coming.

Dan, bagaimanapun, ini adalah Speed freakin' Racer. Gw ga begitu ngefans sama kartunnya, i can tell u that honestly. Hanya cukup seneng untuk ngerti kalo Racer X adalah kakaknya Speed Racer (but then again, who doesnt? It's the world's worst kept secret, even worse than Burger King's.), tokoh2nya ngomong secepat cheetah lari (that's fast), n racingnya gila2an. Ngeliat statusnya sebagai salah satu most revered anime in anime's history, dan fanbase nya yg pasti superduper gede, bukan mustahil kalo filmnya bakal jadi hit besar kalo digarap dgn genah (that is, genah dalam dunia Speed Racer, yg artinya sirkuit melingkar2 ga keruan dan balapan yg bikin The Fast n The Furious keliatan kaya buatan anak TK) Read more!

Film Review: Persepolis (*****)


Wow... Gw tertawa... Gw takut... Gw terenyuh... Gw terpukau!

Ini dia film animasi terbaik tahun ini. Bukan Ratatouille. Bukan The Simpsons Movie. Tapi Persepolis, animasi hitam-putih produksi Perancis garapan Vincent Parronaud dan Marjane Satrapi, yg diadaptasi dari novel grafis (yg juga sekaligus memoir) berjudul sama karya Satrapi.

Kisahnya sederhana namun digarap dengan manis dan rapi. Marjane kecil tumbuh besar di kala negerinya, Iran, tiba-tiba terkoyak oleh Revolusi Islam tahun 1978. Pribadinya yang liberal dan kontemporer tiba-tiba harus berbenturan dengan adat fanatisme Islam yang langsung mengepung dari segala sisi. Tumbuh di keluarga pemberontak, dengan kakek dan paman yang pernah dipenjara sebagai 'musuh pemerintah' dan dua orangtua yang kompak ikutan demonstrasi, membuat jiwanya secara alami menjadi bergejolak. Dan sepanjang film, kita pun diajak melintasi ruang dan waktu, seraya melihat tokoh utama kita beranjak dewasa dan mencoba menemukan jati diri.


Hal yang paling patut diacungi jempol dari film ini adalah, dia ga mencoba menjadi karya yang serius-serius amat. Untuk sebuah karya yang berbicara tentang masalah yg rawan perdebatan, yaitu agama, film ini begitu berjubel dengan lelucon segar yg bikin seisi bioskop ngakak ketawa. Leluconnya sendiri begitu beragam, mulai dari kepolosan Marjane kecil, keunikan tokoh-tokoh di dunianya, hingga humor satir yg menyindir kekuasaan Amrik atas dunia, sampe humor nakal yg khusus orang dewasa. Akibatnya, filmnya ga kerasa pretensius sama sekali, waktu dia mencoba mempertanyakan fondasi-fondasi yang menjadi dasar hukum suatu agama. Dia juga ga berusaha menyalahkan agama. Seluruh dialognya lebih berusaha mempertanyakan pemahaman kita tentang agama yg kita ikuti: apa kita bener2 paham dengan apa yg kita ikuti, atw cuma sekedar ikut2an secara buta yg akhirnya membuat kita mengambil 'keputusan atas dasar agama' yg ga pas dng agama yg kita anut.

Gw salut dengan film ini. Mungkin jg karena gw dateng dari kota ajaib yg pemdanya bikin peraturan 'seluruh kedai harus tutup di bulan puasa', karena kalo kedai buka seluruh orang pemda kongkow2 di kedai nunggu buka n malah ga kerja. Selain itu, mereka diharapkan bisa menghormati orang yg puasa. Satu peraturan yg patut ditertawakan, karena salah apa para pedagang itu sampe mereka ga boleh kerja di bulan puasa? Mw dapet penghasilan darimana mereka? Lalu apakah umat Islam kota gw serendah itu, sampe untuk minta dihormati pun harus menerapkan perda? Toh di kota2 yg jauh lebih besar n lebih beradab, seluruh kedai tetap buka, dan pemda masih bisa berdiri tegak, n umat Islamnya masih merasa hormat.

Pertanyaan2 kaya ginilah yang dicoba dilontarkan Persepolis. Walopun tentu bukan tentang peraturan perda kolot seperti di atas. Tapi, karena tidak ingin menghambur2kan spoiler, rasa2nya analogi itu cukup cocok.

Persepolis jg berhak mendapat hormat untuk penggubahan karakter dan ceritanya. Desain yang sederhana (hanya hitam di atas putih dan digambar seperlunya tanpa terlalu detail) justru membuat tatapan mata kita sepenuhnya terpaku ke karakter2 yg oh begitu indahnya. Kekuatan karakternya setaraf dengan karya2 terbaik Pixar serta anime2 terkeren Jepang. Karakter Marjane kecil, contohnya, yg bisa begitu konyol mencobakan jurus Bruce Lee ke sepupunya di satu adegan, namun begitu terpana mendengar sejarah Iran dari pamannya di adegan lain.

Persepolis adalah salah satu karya film terbaik tahun ini. Dengan keberaniannya dan kepolosannya, dia menjadi sebuah karya yang berhak mendapat pengakuan luas dari seluruh dunia. Inilah sebuah karya elegan dan sebuah memoir yang menyentuh, yang patut disaksikan oleh mereka yang cinta pada agamanya dan tidak ingin melihat cintanya itu ternoda oleh mereka-mereka yang mencoba mengotorinya.

Rating: ***** (out of five stars)
Read more!

Film Review: No Country for Old Men (****1/2)














Third review from Jiffest. Another one (Persepolis) and it's done. Yay! Hiks!

Joel Coen dan Ethan Coen memang duo filmmaker yang aneh. Jenius, memang; tapi aneh. Dan film-film mereka pun selalu seperti itu. Mencoba menembus batas kewajaran, dengan imbuhan humor2 gelap nan garing yang khas Coen, dan tokoh2 unik yg walopun tidak terkesan norak namun tetap saja tiada duanya.

Kalo Fargo terkenal dengan adegan woodchippernya, The Big Lebowski terkenal dengan halusinasi bowling-nya, maka di film ini ada Anton Chigurh, seorang pembunuh bayaran berdarah dingin yang sama sekali tidak punya sense of humour, dan menganggap nyawa manusia seakan-akan mereka cuma sasaran latihan tembak.


Ceritanya bisa dilihat di entri 'Jiffest, here I come'. Singkatnya, ada yang menemukan duit di tengah padang pasir. Lalu ada yang memburu dia. Lalu si pemburu ini diburu sherrif lokal. Dan kejar-kejaran pun terjadi.

Susah mereview film ini tanpa membocorkan caranya menyusun alur. Tapi gw akan coba. So..., here it goes...















Yang akan paling diingat orang setelah nonton film ini adalah satu tokoh supergila dan supersinting bernama Anton Chigurh, yg dimainkan dengan gila2an sama aktor watak asal Spanyol Javier Bardem. Dia tipe orang yang ga bakal mw lo temui, karena begitu dia ngeliat lo, dia bakal langsung nembak lo (Chigurh tentu, bukan Bardem).

Chigurh adalah pembunuh yang berdedikasi tinggi. Targetnya jelas dan ia takkan berhenti sampai target itu dibunuhnya. Dan seluruh manusia yang muncul di hadapannya adalah halangan baginya. Dan kita semua tahu apa yang harus dilakukan jika ada yang menghalangi: singkirkan dia, dengan cara apapun. Well..., dengan profesi seperti Chigurh, dan otak se-gakwaras dia, hal kaya gini ga susah2 banget dilakuin. Senjata pilihan dia pun asik: tabung oksigen berikut selangnya. Dan, sekali lagi gw bilang: tidak, caranya memakai barang ini untuk melukai lawan bukan dengan menghantamkannya kencang2 ke kepala. Ternyata ada cara yg lebih ringkas, lebih cepat, dan lebih efektif. Cara yg begitu mencengangkan, lo bakal dibuat kaget dan melongo pas pertama kali dia melakukannya, sambil mikir2 "anjrit! dia barusan..?! Barusan tadi dia..?! Anjrit!"

Sementara itu, editingnya, yg akhirnya berbuntut ke penyusunan alur, bisa dibilang kekuatan sekaligus kelemahan film ini. Kuat, karena memang kerasa kalo beda. Adegan2 dibangun dengan lambat, pelan2, tanpa buru2 sedikitpun. Sense of dread jadi amat sangat terasa, sama sekali ga kaya film horor lokal yg selalu ga sabaran munculin hantunya sampe ada gerakan2 yg literally di-fastforward. Lemah, karena akhirnya memang ada beberapa adegan yg jadinya kerasa kepanjangan. Kerasa seluruh gerakan si tokoh yg ada dalam adegan berusaha ditangkep, termasuk kalo tokohnya ngelihat hasil tembakan peluru di dinding selama setengah menit, atw duduk di kasur megang senjata sambil nunggu musuhnya dateng.

Selain itu, keputusan sutradaranya untuk meninggalkan beberapa adegan, tidak memperlihatkan mereka secara eksplisit, jg gw yakin bakal bikin banyak penonton kecewa berat. Tapi, gw tetep salut sama sutradara dan editornya (orang2nya sama), karena menurut gw, tanpa adegan2 tersebut pun, kita bisa nebak apa yang terjadi. Ga harus kan sesuatu itu ditunjukin ke muka kita supaya kita tahu sesuatu itu ada. Gw salut karena akhirnya kita dibuat mikir sendiri kaya apa kejadian sebenernya di adegan2 yg 'hilang' itu. Dibiarin ambigu, jadi akhirnya terserah kita maunya gimana.

Namun, memang ada beberapa kesempatan dimana sutradaranya terkesan kelewatan make prinsip di atas. Akhirnya, gw jadi ngerasa kalo film ini kurang nendang. Apa yang harusnya bisa menjadi mahakarya yang gw agung2kan taun 2007, jadi kerasa ada yang kurang dikit. Dikit aja. Jadi, yang awalnya gw mw ngasih 5 bintang ke ini film, jadinya cuma 4 setengah bintang.

So, here it goes:
Rating: ****1/2
Read more!

Sunday, December 9, 2007

Film Review: Into the Wild (****1/2)


Review kedua gw dari belantara Jiffest. Tentang film buatan aktor kawakan Sean Penn (Dead Man Walking, Sweet and Lowdown, Mystic River), bertabur bintang Hollywood mulai dari William Hurt, Marcia Gay Harden, Catherine Keener, Vince Vaughn, sampai bintang muda Jena Malone dan Emile Hirsch, yg bakal jadi Speed Racer taun depan.

Taun 1990, Chris McCandless yg baru lulus kuliah mendermakan seluruh tabungannya ke charity, menggunting seluruh ID cardnya, membakar seluruh uang tunainya, lalu kabur dari peradaban dan nekat melakukan perjalanan ke Alaska, mengandalkan hanya sepasang kakinya, seransel kebutuhan pokok, dan kebaikan pengendara2 mobil di sepanjang jalan. Di sepanjang perjalanan, dia pun bertemu dengan sosok2 yang merubah pandangannya terhadap hidup, dan sebagai gantinya, dia juga merubah pandangan hidup orang-2 yang ditemuinya itu.

Jarang2 muncul film seperti ini. Film dengan tokoh utama yg pandangannya tentang hidup begitu radikal dan berlawanan dgn pemahaman universal masyarakat awam, dan akhirnya merasa ga cocok dengan segala hal di sekitarnya. Sekedar informasi, film ini didasari kisah nyata. Karena itulah, pas tokohnya (si Chris itu) ngasi pandangannya yg begitu nendang di pantat karena keberaniannya dan keradikalannya, kita ga lantas menganggap filmnya pretensius atau apa. Karena, bagaimanapun, pernyataan2 itu dibuat tokoh nyata. Bukan sekedar tokoh fiksi garapan seorang penulis skenario depresif yg stres menghadapi hidup. Pernyataan2 tersebut dibuat oleh manusia utuh yg jg punya otak, punya pikiran, bernafas, bergerak, berinteraksi dgn orang lain, sama kaya kita. Bahwa pandangannya begitu radikal, akhirnya kita fine2 aja. Oke, ada seseorang yg berpandangan seperti ini. Tapi kita juga tau latar belakang dia spt apa, apa yg membuat dia berpandangan seperti itu, dan kenapa dia memegang pandangannya sedemikian teguh. Toh kita pernah punya Charles Darwin dan Adolf Hitler yg pandangan hidupnya jauh lebih radikal dari ini. Dan pandangan mereka jg abadi. Jadi memang ga salah kan kalo ada orang yg punya pandangan berbeda dari sebagian besar masyarakat, seberbeda apapun itu?

Kemudian, karena ini berdasarkan kisah nyata, akhirnya dia jg kena sindrom yg emang jarang jauh dari film jenis ini: struktur ceritanya ga tradisional. Ga kaya kisah fiksi yg hampir selalu dikungkung dalam pola alur awal->konflik->klimaks->ending, film kisah nyata seringkali memiliki alur yg berserak, tanpa pembangunan satu konflik yg runtut terbangun dan lalu meledak di satu klimaks. Film kisah nyata sering memaparkan potret2 kehidupan si tokoh dgn berbagai suka dukanya yg di-press ke dalam satu film (berdurasi 140 menit untuk kasus Into the Wild). Karena, bagaimanapun, hidup emang bukan kisah yg bisa digarap dgn hati2 dn dipikirkan matang sebelum dijalani, selayaknya kisah fiksi. Hidup penuh kejutan, penuh tikungan tak terduga, kesedihan tak terelakkan, kebahagiaan tak terbendung, dan keindahan yang tak dapat ditandingi oleh karya fiksi peraih Nobel sekalipun. Hasilnya emang, emosi nonton film kisah nyata jadi sering ga senendang nonton film fiksi. Begitu pula dgn Into the Wild n Atonement di hari pertama Jiffest. Emosi nonton Atonement masih jauh lebih nendang dari Into the Wild.

Tapi, kekurangan ini lalu diimbangi dengan kemampuan hebat filmmaker Into the Wild untuk memotret keganasan hidup di alam bebas dan keindahan-keindahan alami yg merekah di dalamnya. Acungan jempol untuk sutradara Sean Penn yg berhasil menangkap berbagai adegan indah di belantara Amerika. Dan rasa hormat dan kagum yg sangat tinggi untuk sinematografer Eric Gautier, yg namanya melejit beberapa taun lalu stl menembak film The Motorcycle Diaries yg bercerita ttg masa muda Che Guevara. Di Into the Wild, ia berhasil membuat beberapa tembakan kamera yg menyamai keajaiban potret2 terbaik majalah National Geographic, yg pasti akan membuat lo terpana, merinding saking indahnya. Dan, seperti potret-potret terbaik majalah NatGeo, tembakan-tembakan dia bakal membuat lo percaya lagi kalo masih ada jutaan keindahan di bumi yg sepertinya udah rusak gini. Kudos juga untuk komposer Michael Brook dan pentolan Radiohead Eddie Vedder, yg hanya dengan gitar akustik (sebagai instrumen paling dominan) bisa menggubah ilustrasi musik yg pas n ngena banget di hati.

Into the Wild kerasa wajib ditonton di layar gede, kalopun hanya untuk menyaksikan indahnya alam Amerika at its finest, yg pasti jadi ga senendang kalo diliat di tv ataupun di layar komputer.

Rating: ****1/2
Read more!

Film Review: Atonement (*****)


Ketika satu film memancing lo dari adegan pertama, apakah itu dari gerakan kameranya, musiknya, atw narasi voice-overnya, dan membuat lo terpaku ke layar sampe lama, lo bakal yakin: wow, ini film keren!

Dalam kasus Atonement, yg bikin gw merinding terpana adalah aransemen musiknya. You see, inti jantung yang membuat film ini berdetak, dan tragedi demi tragedinya terjadi, adalah imajinasi liar seorang penulis cilik bernama Briony Tallis. Menyesuaikan diri dengan atmosfer itu, musik latarnya pun juga digarap dengan imajinatif dan tanpa batas, dengan memadukan apa yang menjadi jiwa seorang penulis ke dalam ilustrasi musik. Kalian mungkin bakal ngira, ah ga mungkin... masa bisa alat begituan dijadiin instrumen musik. Tapi nyatanya, film ini berhasil membuat bunyi instrumen tersebut terdengar indah, tegang, mempesona.


Puji syukur untuk bakat gila-gilaan komposer Dario Marianelli yg membuat ilustrasi musik sedemikian keren. Sama tarafnya dengan musik dia untuk Pride and Prejudice (jg dari director yg sama, n juga dibintangi Keira Knightley), yang saking indahnya gw ngira ilustrasi musiknya cuma diambil dari musik klasik doank. Sayang dia ga nggubah musiknya Harry Potter 5, karena dia udah sempet dirumorin kenceng buat ngisi kursi komposer. Penasaran gw musik HP bisa jd seindah apa kalo dia yg bikin.

Dari adegan pertama, musik ini mengalun indah dan terus mengalir hingga beberapa menit, sementara tokoh kita menjelajahi rumahnya. Dan, setiap ada adegan signifikan di sepanjang film, musik yg sama ini selalu terdengar kembali. Dan karena nadanya emang catchy, gw malah jadi ga bosen. Malah nadanya ga ilang2 di otak gw sampe sekarang.

Susah masukin ini film ke kategori apa. Mw dibilang romance, adegan romantisnya yg eksplisit cuma sekali dan sebentar. Mw dibilang film drama perang, ga ada satu pun adegan tembak-tembakan. Jadi mending liat sinopsisnya di entri 'Jiffest, here i come' aja deh..

Memuji-muji musik Atonement ga bakal pantes, kalo gw ga juga memuji satu lagi hal paling menonjol dari film ini: akting aktris cilik Saoirse (petunjuk cara mbaca: Sheer-suh) Ronan, yg udah didapuk the one and only Peter Jackson untuk jadi gadis cilik yang mati diperkosa terus ngeliat keluarganya yg depresi dari surga di The Lovely Bones. Setelah ngeliat film ini, gw yakin Peter Jackson ga salah milih aktris cilik. Dia tipe2 aktris yg hanya dengan tatapan kosongnya dan ekspresi bibirnya, udah cukup untuk ngegambarin tokohnya lagi ngerasa gimana. Saking asyiknya ngeliat akting anak satu ini, gw sampe ngerasa sedikit kecewa waktu Briony jadi gede n diperankan sama Romola Garai, yg walopun jg berakting bagus tapi tetep ga ngalahin kenaifan akting the wonderful Ms. Ronan. Mungkin porsi screentime Saoirse Ronan yg hampir seratus persen lebih banyak dari 2 Briony yg lain (Garai, dan Vanessa Redgrave sbg Briony tua) jg mbantu ngasi image yg menawan dari aktris cilik ini.

Tidak sehebat kedua hal di atas secara keseluruhan, namun memukau di beberapa adegan, adalah sinematografinya. Ada satu adegan di tengah2 film, dimana salah satu tokoh tiba di pantai Dunkirk yg dijejali prajurit2 depresi, dan tokoh tersebut mengelilingi pantai, maka kamera pun benar-benar mengelilingi pantai. Tembakan terus berjalan dengan halus tanpa putus selama beberapa menit (tebakan gw adalah antara lima dan sepuluh). Memang tidak semegah gaya tembakan yang sama di Children of Men yang penuh aksi baku tembak. Namun tetap saja ini adalah satu hasil kolaborasi antara penata kamera, penata seni, penataan adegan oleh sutradara, dan ratusan aktor figuran yang sangat mengagumkan dan layak diacungi jempol.

Memadukan seluruh aspek di atas, beserta ratusan hal lain yang sama indahnya di film ini, adalah sutradara muda Joe Wright dari Inggris. Dia baru bikin 2 film, ini dan Pride and Prejudice, tapi konsisten dgn bakatnya yg luar biasa dan sangat patut ditunggu2 di masa depan. Dari sumber cerita yang membentang hingga beberapa dekade dan terkesan megah, dia berhasil mbikin film yang singkat, padat, intim, ga bertele2, dan ngena di hati pada tempat-tempat yang sangat tepat. Waktu putar film yang nyampe 2 jam 10 menit pun sama sekali ga kerasa. Gw bener2 hanyut terbuai dan pas filmnya selesai, gw malah ngerasa sedikit kecewa. Bukan karena filmnya kerasa diburu-buru n akhirnya kurang panjang. Ga sama sekali. Tapi justru karena gw harus berpisah dengan karya seni seindah ini.

Dan, untuk sebuah film, IMHO pernyataan seperti itu adalah salah satu bentuk sanjungan dan penghormatan paling tinggi yg bisa diberikan seorang penonton.

Atonement, setelah Berbagi Suami dan Ratatouille, adalah film ketiga yang gw beri 5 bintang tahun ini.

So here it is.

Rating: ***** (out of five stars)
Read more!

JIffest 1st day report

Gw nulis ini kemaren malem di rumah, berhub ga nemu wifi di jakarta theatre n ga bisa ngenet (tepar,tepar), jadi gw baru ngupload sekarang.

Enjoy.

Hi, there. Just finished my first day of Jiffest. Really tired now it's 8 past midnight. Okay, about the festival first.

Gila, beda banget sama nonton film di jadwal reguler, walaupun sama2 di 21 (atw XXI, for that matter). Pertama, tiketnya ga pake nomer kursi. Jadi, ya rebutan gitu! Alhasil, karena ga pake nomer kursi, orang2 pun pada ngantri semua di depan pintu bioskop, sejak kurang lebih sejam sebelumnya. Parahnya, sebanyak itu orang ngantri, ga ada yg duduk satupun. Gw pingin duduk ya jadi ga enak. Mw berdiri terus tapi kaki pegel. Tapi, y mw gimana lagi?! Daripada keluar barisan, duduk di sofa, trus akhirnya baru ngantri pas pintu buka, dapet antrian paling belakang, n akhirnya duduk di kursi paling depan, walah..., ya mending kaki pegel deh... Toh semuanya juga kaya gitu.

Yang kedua, hebat, penonton tenang semua, yang berarti semua yg nonton tu yg ngerti etika bioskop. Bunyi HP cuma kedenger sekali, dua kali. Ga ada ibu2 ngerumpi. Ga ada anak2 cewek ngegosip. Ga ada anak2 cowok ngobrolin hal ga penting. Enaknya bisa dapet pengalaman nonton yang seluruh penontonnya sepaham sama gw kaya gini! Ga pake tulilulit tulilulit bunyi hape yg bikin pengen nimpuk.

Ketiga, nonton ga pake subtitle!! Wow, rada2 kagok juga awalnya, tapi mungkin karena sound system bioskop jauh lebih jernih dari sound system komputer gw (well duh!), seluruh dialog bener2 ketangkep dengan jelas. Kita jadi ngerti bener apa yang diomongin. Dan ini ga hanya terjadi sama gw. Bukti yg paling gampang seluruh bioskop ketawa di humor yg mengandalkan dialog. Artinya, seluruh penonton bisa menikmati bareng2 apa yg ditayangkan di layar.

Keempat. Dan yang paling signifikan rasanya: NO FREAKIN' CENSORS!!! A BIG APPLAUSE FOR THE CREWS!! Mungkin emang kebijakan crew (yg jujur gw salut banget) untuk menayangkan film apa adanya sesuai yg terkirim dari sononya, jd selain ga pake subtitle, juga ga ada sensor2 sama sekali. Full frontal nudity in all its glory (or terror). Tits on the big screen. Gw pikir harus nunggu sepuluh duapuluh taun lagi, pas akhirnya bisa ke amrik, untuk bisa nyaksiin hal ky gini. Sapa sangka memutuskan dateng ke jiffest membawa berkah tak terduga? Hahaha... Gw salut bukan karena dorongan hormon cowok gw yang menggelegak (walo gw yakin secara tak sadar hormon gw ikut berpengaruh), tapi karena kru jiffest menghargai film sebagai karya seni yang tak pantas dipancung sesedikit apapun.

Kelima. Oh.., yang paling mengharukan. We actually applause when the movie ends! Hal ini yg selalu membuat pengalaman nonton gw serasa ga komplit. Kalo liat review2 di internet kiriman orang2 awam yg ngomong 'they applauded when this or that happen' or 'they give a huge standing ovation when the film ends', gw selalu mikir, kok ga pernah di sini kaya gitu ya? Sekali2nya gw pernah ngeliat seisi bioskop keplok2 adalah waktu nonton (bear with me here..)... PULAU HANTU..., film yg gw tonton dgn kesadaran penuh pengen bakar duit n nonton film sampah. Pas ada adegan hantunya muncul, jreng, jreng, jreng, Aaa!!! Aaa!!! Aaa!!!, PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK!!! I mean, WTF?!?!?! Dan, ketika nonton Ratatouille (atw bahkan Transformers yg mainstream abis n tanpa mikir alias tontonan singkirkan-otak-dan-liat-bum-bum-semua-meledak), pas filmnya selesai..., siiiiinnnggg...... bunyi di tengah hutan sepi yg kerasa penuh di telinga (gw tau, karena begini suasana rmh gw di pekanbaru tiap pagi.. brwahahaha...) Di jiffest inilah, pertama kali, pas film berakhir (dan bukan film sampah macam PULAU HANTU), seluruh audiens tepuk tangan dgn gegap gempita, serasa ada kepuasan bersama stl emosi dicampuraduk bareng2 selama dua jam-an. Emg ga ada sutradara atwpun bintang2nya hadir. Kita keplok2 ke layar, dan rasanya kita puas pas tau seluruh bioskop jg keplok2 bareng kita, artinya semuanya bilang kalo filmnya keren.

Review-2 filmnya sendiri bakal gw upload secepatnya.
Secara ringkas, Atonement gw kasi cap masuk daftar film favorit gw taun ini, dan jagoan Oscar gw unt saat ini. Film ini berhak dapet 5 bintang, dan itu yg akan gw kasih ke dia. So: ***** for Atonement.

Sementara Into the Wild, walopun tidak sekomplit Atonement dalam film-watching experience, tetep gw acungi jempol karena berani mengajukan pernyataan2 yg benar2 menguji segala kepercayaan kita terhadap masyarakat madani dan manusia secara utuh, dan karena sinematografinya yg luar biasa indah, dengan beberapa tembakan kamera yg derajatnya menyamai keajaiban foto2 majalah National Geographic. Gw akan beri dia 5 bintang seandainya ceritanya kerasa lebih komplit. Tapi, memang, film yang memotret kehidupan nyata seringkali kalah dengan film fiksi yang alur ceritanya lebih tradisional (awal->konflik->klimaks->ending). Tapi, ini tetap film keren, dan gw beri dia empat setengah bintang: ****1/2
Read more!